Pembangun menggeleng, hidungnya menggesek tengkuk Unsuur, membuat Unsuur merinding seketika. “Rasanya sangat bosan menari tanpamu.”“Lalu, kau mau bagaimana?”Pembangun terkekeh kecil. “Menarilah bersamaku~”“Tapi aku tak pandai menari.”Pembangun melepaskan pelukannya, menjadikan Unsuur menoleh ke belakang untuk meringankan rasa penasarannya. Kini pembangun berwajah masam, kecewa atas sikap Unsuur yang menolak ajakannya. Tetapi alih-alih merasa ketakutan, Unsuur justru mengulum senyum. ‘Dia sangat menggemaskan~’ Unsuur membatin.“Ayo lah... biarkan aku mengajarimu caranya menari~”“Tapi –”Sebelum Unsuur menolak, pembangun sudah menarik tangannya. Dan Unsuur hanya bisa pasrah ketika dibawa ke tengah-tengah lantai dansa. Pandangannya terfokus ke arah tautan tangan mereka. Jari-jemari lembut pembangun menggenggam tangannya. Melihat itu membuat Unsuur menjadi lumayan tenang. Mungkinkah ini kekuatan cinta?“Ikuti saja musiknya.”Unsuur menelengkan kepala ke musik berasal. Kini lagu berte
“Hey, it’s okay..” Unsuur berusaha menenangkan pembangun. Sekalipun perasaan getir menggaung dalam hatinya. Respon pembangun menjelaskan bahwa dia telah melupakan segala hal yang terjadi semalam setelah muntah. Begitu juga dengan ciuman singkat mereka.‘Memang apa yang aku harapkan? Dia hanya mabuk bukannya menanggapi dengan serius.’“Unsuur.”“Yeah...”Pembangun menunduk. Meski begitu, Unsuur dapat menemukan semburat rona yang menjalar dari wajah hingga telinga pembangun. Dia tengah bersemu. Tetapi keheningan ini membuat Unsuur merasa gelisah. Kalau-kalau pembangun malah mengingat hal yang tak mengenakan. Seperti...“Semalam, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirku.”BADUM!“Kau yakin?”Pembangun mengedikkan bahu. “Entahlah... tak begitu yakin.”“Jika merasa tak enak, lebih baik lupakan saja.”“Tapi –”“Makanlah bubur itu, setelah itu akan ku antar kau pulang.”Dan Unsuur keluar dari kamar, meninggalkan pembangun di dalam kamarnya.‘Semestaku terhisap luban
Seorang gadis berambut Electric blue tengah berjalan menuju sebuah bangunan megah di ujung jalan. Hari masih terlalu pagi – matahari bahkan belum cukup menapaki kaki langit – sehingga hanya terlihat rinai kekuningan bercampur biru. Udara dingin berembus meniup helaian rambut Electric blue, membuatnya sedikit berantakan sehingga gadis itu harus beberapa kali merapikannya. Waktu telah berjalan sekitar seminggu sejak pertama kali dirinya menjejakkan kaki ke sekolah ini.“Pagi Nira-san!” sapa seorang pria berambut panjang menepuk pundaknya.Nira Naeve – si gadis berambut Electric blue – berjingkat karena terkejut. Dia langsung menundukkan wajahnya begitu mendapati siapa gerangan yang memanggilnya tadi.“Pagi Izayoi-san.”“Kamu berangkat sangat pagi yah, benar-benar anak yang rajin!”“Ti... tidak serajin itu kok.”Nira merapikan rambut panjangnya yang menjuntai, tetapi lumayan susah karena dia terus menerus menunduk sehingga helaian rambutnya kembali jatuh.“Eh, sebentar.”Nira membeku saa
“Dan.....?” desak Isafuyu.“Dan... tekun dalam berlatih.”“Dan....?”Nira mengernyitkan alis. Isafuyu terus meminta penjelasan meskipun dia telah menjawab seperti apa yang dia pikirkan. Tetapi, Nira tetap melakukan apa yang diminta Isafuyu meski dalam keadaan bingung.“Dan... pintar?”“Ah, ayolah! Apa kamu tak bisa berbicara dengan jujur?!”“Sssttt!!”Dan Isafuyu langsung mendapat hardikkan dari penjaga perpustakaan yang berada tak jauh dari mereka. Tak hanya itu saja, seluruh pasang mata pengunjung perpustakaan serentak menatap tajam ke arah mereka.“Jangan berisik Issa.” Nira mengingatkan.“Ugh...” Isafuyu menggigit bibirnya. “Kalau begitu, lebih baik kita pindah tempat saja!”Sebelum Nira melayangkan protes, Isafuyu sudah lebih dulu menarik tangannya, keluar dari perpustakaan. Wilayah sekolah masih tampak ramai oleh murid-murid yang sedang menghabiskan waktu istirahat dengan makan atau pun sekedar mengobrol. Tak banyak tempat yang masih sepi, sehingga Isafuyu memutar otaknya lebih
TAK! TAK! TAK!Ujung tajam pisau bergerak dengan cepat, memotong kentang di atas talenan kayu, membentuknya menjadi kecil memanjang. Suasana di dalam dapur terasa pekat akan keheningan. Tampak seorang gadis muda sedang menyibukkan diri dengan membuat hidangan lezat lainnya.“Apa semua sudah aman terkendali, Orion?” tanya seorang pria paruh baya dengan kumis putih di wajahnya. Dia adalah Butler yang bertugas mengawasi pekerjaan para Maid lain. Termasuk pada gadis yang tengah memotong-motong kentang tersebut.Orion – Maid muda – menatap tanpa ekspresi tertentu. “Makan siang akan siap sebentar lagi, Tuan Steve.”“Bagus lah kalau begitu.” Steve – si Butler – tersenyum. “Apakah ada yang perlu kau butuh kan lagi?”“Tidak ada, semua sudah aman terkendali.”“Tuan Arthur tak suka –”“Daun bawang, bukan?” Orion memotong ucapan Steve sebelum pria itu menyelesaikannya. “Dan tak ada daun bawang pada sebuah Poutine.”Steve membuka mulutnya, hendak menyangkal sebelum akhirnya dia menyadari satu hal.
Di salah satu hari menjelang musim dingin tiba, Desa Kanomiyama mendapatkan kunjungan dari Oda Toshihiro bersama dengan seorang koki Kastil bernama Hirokawa Fuji. Kedatangan mereka tak lain untuk membantu para masyarakat ditengah kesibukan mempersiapkan persediaan musim dingin. Karena siapapun di desa itu tahu jika musim dingin akan menjadi mimpi buruk karena mereka akan kesulitan berburu dan mengumpulkan kayu bakar. Terutama karena di tahun 1586, hutan menjadi tempat berbahaya yang dapat merenggut nyawa."Baiklah semuanya, hari ini kita akan mempraktikan cara memasak bebek yakitori dan manjuu babi hutan, cara ini sangat mudah dan kalian bisa memasaknya lain waktu."Fuji, sang koki istana mengangkat pisau daging lalu menghantamkannya ke arah bebek yang telah dibersihkan. Seluruh penduduk mengangguk-anggukan kepala mereka setiap kali mendengar penjelasan dari Fuji. Entah memang paham atau hanya mengikuti saja.Sebagai seorang koki kastil, keahlian Fuji tak diragukan lagi. Dalam waktu y
Terputusnya panggilan video membuat Kevin yang semula memasang tampang ceria kembali menjadi datar. Pandangannya menatap nanar ke ponsel yang telah menghitam sebelum beralih ke arah jendela. Menatap pemandangan dari luar, cukup banyak orang-orang berlalu lalang. Kebanyakan berpakaian seperti dirinya sedangkan yang lain berjas putih dan rapi. Lumayan membosankan tinggal disini, walaupun belum sampai seminggu. Rasanya Kevin ingin cepat-cepat keluar dari Rumah sakit sialan ini.Tempat yang katanya mampu membuatnya sembuh lebih cepat nyatanya hanya penjara yang mengekangnya hingga tak bisa bergerak leluasa. Di tambah dengan tangan kanan yang masih sangat sakit untuk di gerakan. Bagaimanapun juga dia tak bisa memaafkan pelaku di balik kejadian ini. Siapa lagi kalau bukan Tiara. Gadis itu sangat mencurigakan. Dan, sialnya mampu berpura-pura seolah tak terjadi apapun di depan Nia."Padahal mereka terlihat dekat," gumam Kevin. Banyak hal tak terduga yang tak bisa dia cari jawabannya. Tiara ta
Sepanjang jalan hanya diisi oleh keheningan. Juga langkah kaki mereka yang berjalan berurutan. Dua orang – lelaki dan wanita – berpakaian lebih kompleks dari yang lain memimpin, diikuti oleh tentara Germany yang menyasar, dan terakhir para tentara lainnya.Dua Germany masih tak habis pikir dengan ketenangan di tempat ini. Jauh dari kebisingan, jauh dari kerusuhan, jauh dari kata ‘Perang’. Pikiran mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa ada tempat damai seperti ini di tengah-tengah peperangan? Mereka terhanyut dalam keasyikan batin sampai lupa untuk mengenalkan diri pada orang-orang baru ini.“Eum... Namaku Ronald, Nona?” Ronald menjadi yang pertama mengenalkan diri. Dia mengelap tangannya sendiri sebelum mengulurkannya ke arah wanita berkarisma di depannya.Si wanita menoleh, menatap uluran tangan, lalu tersenyum. “Fan, dan kau tak perlu memanggilku Nona.”“Ah... yah, Fan.” Ronald mengulangi nama itu untuk mengusir kecanggungan.“Kalau kau bermaksud mendekatinya, kau salah orang Bung! D